Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 November 2013

MAKALAH ADHD (ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
 Apakah Anda pernah mengalami kesulitan berkonsentrasi, sulit untuk duduk diam, orang lain terganggu selama percakapan atau bertindak impulsif tanpa memikirkan hal-hal melalui? Dapatkah Anda ingat saat-saat ketika Anda melamun atau mengalami kesulitan untuk fokus pada tugas di tangan?
Sebagian besar dari kita bisa membayangkan bertindak dengan cara ini dari waktu ke waktu. Tapi bagi sebagian orang, ini dan lainnya perilaku menjengkelkan yang tidak terkendali, terus mengganggu keberadaan mereka sehari-hari dan mengganggu kemampuan mereka untuk membentuk persahabatan abadi atau berhasil di sekolah, di rumah dan dengan karier.
Tidak seperti patah tulang atau kanker, gangguan hiperaktivitas defisit perhatian (ADHD, juga dikenal sebagai sekadar gangguan defisit perhatian atau ADD) tidak menunjukkan tanda-tanda fisik yang dapat dideteksi oleh darah atau tes laboratorium lainnya. Tipe ADHD khas gejala sering tumpang tindih dengan gangguan fisik dan psikologis lain.
Penyebab masih belum diketahui, tetapi ADHD dapat didiagnosis dan diobati secara efektif. Banyak sumber daya yang tersedia untuk mendukung keluarga dalam mengelola perilaku ADHD ketika mereka terjadi.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang di maksud dengan ADHD ?
2.      Gangguan apa yang menyertai ADHD ?
3.      Apa penyebab utama ADHD ?
4.      Solusi apa yang dapat di berikan kepada anak ADHD ?


BAB II
ISI

ADHD
(ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER)

ADHD adalah gangguan perilaku yang ditandai dengan inattention (gangguan pemusatan perhatian dan gangguan konsentrasi), impulsif ( berbuat dan berbicara tanpa memikirkan akibatnya), dan hiperaktif yang tidak sesuai dengan umurnya. Keadaan ini dijumpai pada 4-12% diantara anak sekolah dan sering ditemukan pada laki-laki.
ADHD, juga dikenal sebagai gangguan perhatian defisit (ADD) atau gangguan hyperkinetic, telah ada lebih lama daripada kebanyakan orang sadari. Bahkan, kondisi yang muncul untuk menjadi serupa dengan ADHD digambarkan oleh Hippocrates, yang tinggal 460-370 SM. Nama Perhatian Defisit Disorder pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980 di DSM-III, edisi ketiga dari "Diagnostik dan Statistik Manual of Mental Disorders", digunakan dalam psikiatri.Pada tahun 1994 definisi telah diubah untuk memasukkan tiga kelompok dalam ADHD: jenis dominan hiperaktif-impulsif, tipe didominasi lalai, dan jenis gabungan. ADHD biasanya muncul pada masa kanak-kanak tetapi dapat didiagnosis pada orang dewasa.
Baru-baru ini langkah maju dalam pemahaman kita tentang ADHD meliputi:
  • Diperkirakan 3 sampai 5 persen anak-anak yang terkena - sekitar 2 juta anak di AS. Dalam sebuah kelas 25 sampai 30 anak, ada kemungkinan bahwa setidaknya satu akan memiliki ADHD.
  • ADHD merupakan salah satu gangguan mental yang paling umum di antara anak-anak. Ini adalah salah satu alasan utama untuk rujukan ke dokter anak, dokter keluarga, ahli saraf anak, psikiater anak atau psikolog. ADHD terbaik didiagnosa oleh seorang psikolog anak atau spesialis anak lainnya di ADHD.
  • ADHD adalah sekitar tiga kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.
  • Gejala ADHD tidak selalu pergi - hingga 60 persen pasien anak mempertahankan gejala mereka menjadi dewasa. Banyak orang dewasa dengan ADHD tidak pernah didiagnosis, sehingga mungkin tidak sadar bahwa mereka mengalami gangguan tersebut. Mereka mungkin telah salah didiagnosis dengan depresi , kecemasan , gangguan bipolar atau ketidakmampuan belajar.
  •  ADHD telah diidentifikasi di setiap bangsa dan budaya yang telah dipelajari.

KRITERIA ADHD DARI DSM IV (1991) (Diacnistik Statistical Manual)
A.    KURANG PERHATIAN

            Pada kriteria ini penderita ADHD paling sedikit mengalami 6 atau lebih dari gejala-gejala berikutnya dan berlangsung paling sedikit 6 bulan.
1.                sering gagal memperhatikan baik dalam tugas sekolah maupun kegiatan sehari-hari.
2.                kesulitan memusatkan perhatian terhadap tugas maupun kegiatan bermain
3.                sering tidak mendengarkan kalau diajak bicara langsung
4.                sering tidak mengikuti instruksi dan gagal dalam menyelesaikan tugas
5.                sering kesulitan dalam menjalankan tugas
6.                sering kehilangan barang penting untuk menyelesaikan tugas
7.                sering menghindari, enggan melaksanakan tugas
8.                sering bingung/terganggu oleh rangsangan luar
9.                lekas lupa dalam menyelesaikan tugas sehari-hari

B.     HIPERKAKTIFITAS IMPULSIFITAS
            Paling sedikit 6 gejala hiperaktif impulsifitas. Berikutnya bertahan selama paling sedikit 6 bulan sampai dengan tingkatan maladaptif dan dengan tingkat perkembangan.
HIPERAKTIF
1.      Sering gelisah dengan tangan atau kaki menggeliat di kursi
2.      Sering meninggalkan tempat duduk dikelas atau dalam situasi lainnya
3.      Sering naik-naik atau berlarian secaraberlebihan dalam situasi dimana hal ini tidak tepat.
4.      Sering kesulitan atau terlibat dalam kegiatan senggang secara tenang
5.      Sering bergerak seolah-olah dikendalikan oleh motor
6.      Sering berbicara berlebihan

            Fitur utama dari gangguan defisit perhatian (atau ADHD) adalah kurangnya perhatian, hiperaktif, dan impulsif waktu. Tapi karena anak-anak menampilkan perilaku tersebut dari waktu ke, penting untuk tidak menganggap bahwa setiap anak yang Anda lihat dengan gejala-gejala tersebut telah ADHD. Namun, jika gejala melanjutkan, saran harus dicari dari seorang profesional kesehatan yang berkualitas mental.
            BEBERAPA GEJALA hiperaktif impulsifitas atau kurang perhatian yang menyebabkan gangguan muncul sebelum anak usia 7 tahun
1.      Ada suatu gangguan di satu atau lebih situasi
2.      Ada gangguan yang secra klinis, signifikan dalam fungsi sosial, akademik atau pekerjaan
3.      Gejala terjadi karena bukan gangguan zkizofrenia, psikotik atau gangguan mental
( diambil dari Manual Diagnostik dan Statistika  mengenai gangguan mental : Asosiasi Psikiater Amerika tahun 1994)
            Gejala gangguan perhatian defisit biasanya berkembang selama beberapa bulan. Secara umum, impulsif dan hiperaktif yang diamati sebelum kita menyadari kurangnya perhatian, yang sering muncul kemudian. Mungkin juga tidak diketahui karena "pelamun lalai" dapat diabaikan bila anak yang "tidak bisa duduk diam" di sekolah atau jika tidak mengganggu akan diperhatikan. Gejala diamati ADHD karena itu akan sangat berbeda-beda tergantung pada situasi dan kebutuhan khusus itu membuat pada kontrol diri anak-.
            Berbagai bentuk ADHD dapat menyebabkan anak dicap berbeda. Sebagai contoh, seorang anak yang impulsif dapat diberi label "masalah disiplin." Seorang anak yang pasif dapat digambarkan sebagai "tidak termotivasi." Tapi ADHD bisa menjadi penyebab dari kedua pola perilaku. Ini hanya dapat diduga setelah hiperaktif anak, distractibility, kurang konsentrasi, atau impulsif mulai mempengaruhi kinerja sekolah, persahabatan, atau perilaku di rumah.
            Diagnosis ADHD resmi meliputi tiga gejala utama (tidak perhatian, hiperaktif, dan impulsif). Versi terbaru dari buku pegangan bagi negara-negara profesional kesehatan mental yang orang dengan ADHD mungkin memiliki salah satu atau semua gejala utama.
Tiga subtipe ADHD diakui oleh para profesional:
  • Jika gejala hiperaktif-impulsif tapi tidak gejala kurangnya perhatian telah ditunjukkan selama setidaknya enam bulan ke tingkat yang mengganggu dan tidak pantas untuk itu perkembangan tingkat individu.
  • Terutama lengah Type - Jika gejala kurangnya perhatian tetapi tidak gejala hiperaktif-impulsif telah terbukti selama setidaknya enam bulan ke tingkat yang mengganggu dan tidak pantas untuk itu perkembangan tingkat individu.
  • Gabungan Type - Jika gejala dari kedua kurangnya perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas telah terbukti selama setidaknya enam bulan ke tingkat yang mengganggu dan tidak pantas untuk itu perkembangan tingkat individu.

PENYEBAB UTAMA HIPERAKTIF
Peluang Anak Berperilaku Hiperaktif
            Menurut Dr. Erik Taylor, perbedaan jenis kelamin dapat menentukan peluang seorang anak untuk berperilaku hiperaktif. Anak laki-laki mempunyi kemungkinan 3 sampai 4 kali lebih besar untuk menjadi hiperaktif dibanding anak perempuan. Karena masalah yang biasanya menyertai hiperaktivitas (misal sifat agresif) pada anak perempuan tidak begitu berkembang.

Dr. Erik Taylor membagi perilaku aktif yang berlebihan menjadi 3, yaitu :
1.              Overaktivitas, yaitu perilaku anak yang tidak mau diam yang disebabkan kelebihan energi. Hal ini menandakan bahwa anak tersebut sehat, cerdas dan penuh semangat. Tapi overaktifitas sesaat bisa terjadi pada anak yang keaktifannya normal.
2.              Hiperaktivitas, yaitu pola perilaku overaktif yang cenderung ngawur (tidak pada tempatnya).
3.              Sindrom hiperkinetik, yaitu semua bentuk hiperaktifitas parah, yang menyertai jenis kelambatan lain dalam perkembangan psikologi, misalnya sikap kikuk dan kesulitan bicara. Anak yang berperilaku sangat aktif pada usia 2-3 tahun belum bisa dikatagorikan hiperaktif, karena rentang aktivitas yang dianggap normal masih besar.
Gejala autis dan hiperaktif adalah termasuk gangguan yang disebabkan oleh perkembangan otaknya yang tidak normal. Sehingga membuat pertumbuhan sang anak menjadi tidak biasa. Pada awalnya gangguan seperti ini tidak tampak pada usia balita, baru dapat dipastikan saat menjelang masuk sekolah atau di atas usia 4 atau 5 tahun.
Akan tetapi, tidak semua perhitungan umur seperti ini bisa dijadikan sebagai patokan yang pasti. Karena batasan usia terkena gangguan semacam ini memang bervariasi. Bisa jadi seorang anak justru mengalami gangguan ini pada usia balita. Oleh karena itu orang tua harus selalu waspada dalam menghadapi setiap perkembangan anaknya.
Penyebab perilaku hiperaktif
1.              Kondisi saat hamil & persalinan. Misalnya keracunan pada akhir kehamilan (ditandai dengan tingginya tekanan darah, pembengkakan kaki & ekskresi protein melalui urin), cedera pada otak akibat komplikasi persalinan.
2.              Cedera otak sesudah lahir,yang disebabkan oleh benturan kuat pada kepala anak.
3.              Tingkat keracunan timbal yang parah dapat mengakibatkan kerusakan otak.Hal ini ditandai dengan kesulitan konsentrasi, belajar dan perilaku hiperaktif. Polusi timbal berasal dari industri peleburan baterai, mobil bekas, asap kendaraan atau cat rumah yang tua. Obat untuk mengeluarkan timbal dari dalam tubuh hanya diberikan dibawah pengawasan dokter bagi anak kadar timbalnya sudah sangat tinggi, karena obat tersebut mempunyai efek samping.
4.              Lemah pendengaran, yang disebabkan infeksi telinga sehingga anak tidak dapat mereproduksi bunyi yang didengarnya. Akibatnya, tingkah laku menjadi tidak terkendali & perkembangan bahasanya yang lamban. Segeralah hubungi dokter THT jika anak menunjukkan ciri berikut : perkembangan bahasa yang lambat, lebih banyak memperhatikan mimik lawan bicara & lebih banyak berreaksi terhadap perubahan mimik & isyarat.
5.              Faktor psikis, yang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan anak dengan dunia luar. Meskipun jarang, hubungan dengan anggota keluarga dapat pula menjadi penyebab hiperaktivitas. Contoh kasus, orang tua yang bersikap sangat tegas menyuruh anak berdiri 15 menit di pojok ruangan untuk mengatasi ketidakdisiplinannya. Tapi setelah 15 menit berlalu, maka anak malah mempunyai energi berlebih yang siap meledak dengan akibat lebih negatif dibanding kesalahan sebelumnya.


Problem-problem yang biasa dialami oleh anak hiperaktif:
1.              Problem di sekolah
Anak tidak mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan baik. Konsentrasi yang mudah terganggu membuat anak tidak dapat menyerap materi pelajaran secara keseluruhan. Rentang perhatian yang pendek membuat anak ingin cepat selesai bila mengerjakan tugas-tugas sekolah.
2.              Problem di rumah
Dibandingkan dengan anak yang lain, anak hiperaktif biasanya lebih mudah cemas dan kecil hati. Selain itu, ia mudah mengalami gangguan psikosomatik (gangguan kesehatan yang disebabkan faktor psikologis) seperti sakit kepala dan sakit perut. Hal ini berkaitan dengan rendahnya toleransi terhadap frustasi, sehingga bila mengalami kekecewaan, ia gampang emosional. Selain itu anak hiperaktif cenderung keras kepala dan mudah marah bila keinginannya tidak segera dipenuhi. Hambatan-hambatan tersbut membuat anak menjadi kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
3.              Problem berbicara
Anak hiperaktif biasanya suka berbicara. Dia banyak berbicara, namun sesungguhnya kurang efisien dalam berkomunikasi. Gangguan pemusatan perhatian membuat dia sulit melakukan komunikasi yang timbal balik. Anak hiperaktif cenderung sibuk dengan diri sendiri dan kurang mampu merespon lawan bicara secara tepat.
4.              Problem fisik
Secara umum anak hiperaktif memiliki tingkat kesehatan fisik yang tidak sebaik anak lain. Beberapa gangguan seperti asma, alergi, dan infeksi tenggorokan sering dijumpai. Pada saat tidur biasanya juga tidak setenang anak-anak lain. Banyak anak hiperaktif yang sulit tidur dan sering terbangun pada malam hari.



Faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak
1.      Faktor neurologik
Insiden hiperaktif yang lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir dengan masalah-masalah prenatal seperti lamanya proses persalinan, distres fetal, persalinan dengan cara ekstraksi forcep, toksimia gravidarum atau eklamsia dibandingkan dengan kehamilan dan persalinan normal. Di samping itu faktor-faktor seperti bayi yang lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan minum alkohol juga meninggikan insiden hiperaktif
            Terjadinya perkembangan otak yang lambat. Faktor etiologi dalam bidang neuoralogi yang sampai kini banyak dianut adalah terjadinya disfungsi pada salah satu neurotransmiter di otak yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk memelihara proses konsentrasi.
2.      Faktor toksik
Beberapa zat makanan seperti salisilat dan bahan-bahan pengawet memilikipotensi untuk membentuk perilaku hiperaktif pada anak. Di samping itu, kadar timah (lead) dalam serum darah anak yang meningkat, ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena sinar X pada saat hamil juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif.
3.      Faktor genetik
Didapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan saudara yang masa kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar.
4.      Faktor psikososial dan lingkungan
Pada anak hiperaktif sering ditemukan hubungan yang dianggap keliru antara orang tua dengan anaknya.

PENANGANAN ANAK HIPERAKTIF
Ø  Pengobatan secara medis :  antidepresan, Ritalin  , Dexedrine , Desoxyn , Pemoline,  Busiprone , Clonidine (3-4 jam dan diberikan 2 atau 3 kali dalam sehari)merupakan obat yang paling sering dipergunakan . Obat sifatnya sementara) karena tidak jelas sasaran pengobatan.
Ø  Terapi biomedis = memperbaiki metabolisme tubuh anak.  Terapi nutrisi dan diet diantaranya adalah keseimbangan diet karbohidrat, penanganan gangguan  pencernaan , penanganan  alergi makanan .  Diet dapat dipakai sebagai terapi alternatif yang dilaporkan cukup efektif.  Suatu substansi asam amino (protein), L-Tyrosine,
Ø  Terapi modifikasi perilaku berupa interaksi sosial, bahasa dan perawatan diri sendiri. Selain itu juga akan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, seperti agrsif, emosi labil.
Ø  Terapi integrasi sensori Pengorganisasian informasi melalui beberapa jenis sensori di anataranya adalah sentuhan, gerakan, kesadaran tubuh dan  grafitasi, penglihatan, pendengaran, pengecapan, dan penciuman yang sangat berguna untuk menghasilkan respon yang bermakna
Ø  Terapi musik
Ø  Terapi bermain
Ø  Terapi medikamentosa = penambahan vitamin tertentu
Ø  Terapi konsentrasi
Ø  Terapi gelombang otak
Ø  Terapi wicara

MENGELOLA ANAK HIPERAKTIF
Ø  Pertama, PERIKSALAH. Tak semua tingkah laku yang kelewatan dapat digolongkan sebagai hiperaktif. Karena itu, Anda perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktif. Yang harus Anda lakukan adalah mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak.
Ø  Kedua, PAHAMILAH. Untuk bisa menangani anak hiperatif, ada baiknya pula jika Anda dan anggota keluarga mengikuti support group dan parenting skill-training. 
Ø  Ketiga, LATIH kefokusannya. Jangan tekan dia, terima kaeadaan itu. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas
Ø  Keempat, TELATENLAH. Jika dia telah “betah” untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai.
Ø  Kelima, BANGKITKAN kepercayaan dirinya.  gunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif.
Ø  Keenam, KENALI arah minatnya. jika dia bergerak terus, jangan panik, ikuti saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia. Jangan dilarang semuanya, nanti dia prustasi.
Ø  Ketujuh, MINTA dia bicara. Ini sangat penting Anda terapkan. Ingat, anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi.
Ø  Terakhir, SIAP bahu-membahu. Jika dia telah mampu mengungkapkan pikirannya, Anda dapat segera membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan. Jangan ragu. Bila perlu, bekerja samalah dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akan berdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya







BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Hiperaktif adalah suatu pola perilaku seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak menaruh perhatian dan impulsif (semaunya sendiri). Anak yang hiperaktif cenderung untuk selalu bergerak, bahkan dalam situasi yang menuntut agar mereka bersikap tenang. Mereka tidak bisa berkonsentrasi dalam waktu beberapa menit saja. Sebentar-sebentar mereka bergerak untuk pindah dari permainan yang satu ke permainan yang lain.
Menurut Dr. Erik Taylor, perbedaan jenis kelamin dapat menentukan peluang seorang anak untuk berperilaku hiperaktif. Anak laki-laki mempunyi kemungkinan 3 sampai 4 kali lebih besar untuk menjadi hiperaktif dibanding anak perempuan. Karena masalah yang biasanya menyertai hiperaktivitas (misal sifat agresif) pada anak perempuan tidak begitu berkembang.
Untuk dapat disebut memiliki gangguan hiperaktif, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsive:
1.            Inatensi
            Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu.
2.            Hiperaktif
            Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan.
3.            Impulsif
            Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali.
Penyebab perilaku hiperaktif :
a.       Kondisi saat hamil & persalinan.
b.      Cedera otak sesudah lahir,yang disebabkan oleh benturan kuat pada kepala anak.
c.       Tingkat keracunan timbal yang parah dapat mengakibatkan kerusakan otak.
d.      Lemah pendengaran,
e.       Faktor psikis

Faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak :
a.       Faktor neurologic
b.      Faktor toksik
c.       Faktor genetic
d.      Faktor psikososial dan lingkungan













DAFTAR PUSTAKA

Paternotte, Arga & Buitelaar, Jan. 2010. ADHD – Attention Deficit Hyperactivity Disorder(Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas): Tanda-tanda, diagnosis,terapi, serta penanganannya di rumah dan di sekolah. Penerbit Prenada Media, Jakarta.
Zaviera, Ferdinand. 2007.  Anak Hiperaktif : Cara Cerdas Menghadapi Anak hiperaktif dan gangguan Konsentrasi. Penerbit : Ar-ruzz Media, Yogyakarta.
http ://www.trigonalworld.com/2010/12/upaya-mengatasi-anak-hiperaktif.html (di akses 23 Februari 2011).
http://id.answers.yahoo.com/question/index (diakses 23 Februari 2011).

ENTEROBIUS VERMICULARIS

MAKALAH
ENTEROBIUS VERMICULARIS


DISUSUN OLEH :
Andy Hermawan
NPM : 1151140013
Fitri Marlisa Putri
NPM : 115140039
Nuzul Wahyudi
NPM : 115140068
Razif Fathoni
NPM : 115140118
Satra
NPM : 115140083
Tika Angreani
NPM : 115140094

PERGURUAN TINGGI MITRA LAMPUNG
STIKES KEPERAWATAN
2013
DAFTAR ISI
Halaman Judul...............................................................................................       1
Daftar Isi........................................................................................................       2
BAB I Pendahuluan .....................................................................................       3
A. Latar belakang .........................................................................................       3
B. Identifikasi Masalah .................................................................................       4        
C. Batasan Masalah.......................................................................................       5
D. Rumusan Masalah ....................................................................................       5
E. Tujuan Penulisan.......................................................................................       5
F. Metode Penulisan......................................................................................       5
G. Manfaat.....................................................................................................       5
H. Sistematika Penulisan...............................................................................       6

BAB II Dasar Teori.......................................................................................       7   
A. Klasifikasi.................................................................................................       7
B. Hospes dan Nama Penyakit......................................................................       7
C. Distribusi Geografik..................................................................................       7
D. Habitat......................................................................................................       7
E. Morfologi..................................................................................................       8
F. Siklus Hidup..............................................................................................       8
G. Gejala Klinis.............................................................................................       9
H. Diagnosis Laboratorium ...........................................................................       9
I. Epidemiologi dan Faktor Risiko................................................................       10
J. Pengobatan dan Prognosis.........................................................................       12
K.. Pencegahan dan Pengendalian.................................................................       13

BAB III Bahaya Infeksi................................................................................       15
A. Infeksi Berat ............................................................................................       15
B. Gejala Klinis Infeksi ................................................................................       16
C. Potensi kerugian........................................................................................       17

BAB IV Penutup...........................................................................................       18
A. Kesimpulan...............................................................................................       18
B. Saran.........................................................................................................       18
Daftar Pustaka ..............................................................................................       20


BAB I
PENDAHULUAN


A.          Latar Belakang
         Cacingan merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara tropis, termasuk Indonesia. Penyakit ini juga paling rentan dialami anak usia Sekolah Dasar (SD).1 Cacingan adalah keadaan dimana seseorang terserang berbagai macam cacing yang dapat merusak kesehatan.  Akibat cacingan sangat beragam salah satunya kurang darah, dan diare.2
         Hasil survei Subdit Diare Kemenkes RI tahun 2002 dan 2003 di 40 sekolah dasar di 10 provinsi menunjukkan prevalensi kecacingan yang berkisar antara 2,2% - 96,3%. Dengan kata lain masih ada area yang memiliki prevalensi kecacingan cukup tinggi.3 Akan tetapi menurut Prof. Saleha Sungkar, DAP & E, MS dari Departemen Parasitologi FKUI secara umum angka kecacingan terus menurun. Misalnya saja sebelumnya 90% anak di Kepulauan Seribu menderita kecacingan, namun kini jumlahnya turun sampai 51%.3
         Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2010 di SD Paseban Jakarta juga hanya menemukan 19 anak yang positif cacingan. Yang terbaru adalah penelitian di sebuah pesantren di Tangerang awal tahun 2011, dari 300 santri yang diperiksa hanya 9 yang positif cacingan.3 Kepala Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan & PPM Kementerian Kesehatan dr. Hartati Samsudin, MQIH mengatakan berdasarkan hasil survei, saat ini anak Indonesia yang menderita penyakit kecacingan angkanya rata-rata berada di kisaran 30%.4
         Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, SpP (K) mengatakan, cacing usus yang ditularkan melalui tanah masih menjadi permasalahan kesehatan mendasar.5 Cacing usus yang biasa ditemukan di wilayah tropis adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus), serta cacing cambuk (Trichuris trichiura). Cacing tambang ini yang paling bahaya. Bahkan ketiga cacing ini yang ditulis oleh WHO untuk ditanggulangi permasalahannya.6
         Dikatakan lebih lanjut, satu ekor cacing dapat menghisap darah, karbohidrat dan protein dari tubuh manusia. Cacing gelang menghisap 0,14 gram karbohidrat & 0,035 gram protein, cacing cambuk menghisap 0,005 mL darah, dan cacing tambang menghisap 0,2 mL darah. Sekilas memang angka ini terlihat kecil, tetapi jika sudah dikalkulasikan dengan jumlah penduduk, prevalensi, rata-rata jumlah cacing yang mencapai 6 ekor/orang, dan potensi kerugian akibat kehilangan karbohidrat, protein dan darah akan menjadi sangat besar.12
         Kerugian akibat cacing gelang bagi seluruh penduduk Indonesia dalam kehilangan karbohidrat diperkirakan senilai Rp 15,4 milyar/tahun serta kehilangan protein senilai Rp 162,1 milyar/tahun. Kerugian akibat cacing tambang dalam hal kehilangan darah senilai 3.878.490 liter/tahun, serta kerugian akibat cacing cambuk dalam hal kehilangan darah senilai 1.728.640 liter/tahun, ujar Prof. Tjandra.12
         Selain ketiga cacing tersebut, cacing kremi (Enterobius vermicularis) adalah salah satu jenis cacing usus yang juga masih tinggi infeksinya di Indonesia. Hasil penelitian di Kelurahan Tambak Wedi, Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya pada tahun 2009 dengan jumlah sampel 46 orang didapatkan prevalensi infeksi cacing Enterobius vermicularis sebesar 45,7%.9
         Umumnya pemeriksaan dalam survei-survei infeksi cacing usus di Indonesia adalah pemeriksaan tinja sehingga infeksi Enterobius vermicularis jarang dilaporkan8. Maka dari itulah penulis tertarik untuk menyusun makalah/paper dengan judul “Bahaya Infeksi Enterobius vermicularis“ yang akan menguraikan cara diagnosis dan bahaya Enterobiasis.

B.             Identifikasi Masalah                                  
1.        Mengapa infeksi Enterobius vermicularis jarang dilaporkan?
2.        Bagaimana gejala klinis dari enterobiasis?
3.        Bagaimana cara diagnosis enterobiasis ?
4.        Apa saja faktor risiko enterobiasis?
5.        Bagaimana pengobatan dan pencegahan enterobiasis?
6.        Apa bahaya dan potensi kerugian dari enterobiasis?

C.          Batasan Masalah
         Berdasarkan identifikasi masalah yang telah disebutkan, makalah ini membatasi masalah yang dipertanyakan pada gejala klinis dan diagnosis infeksi Enterobius vermicularis.

D.          Rumusan Masalah
         Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah tersebut, makalah ini dirumuskan permasalahannya pada bahaya dari infeksi Enterobius vermicularis.

E.           Tujuan Penulisan
          Penulisan ini bertujuan untuk melengkapi sebagian tugas mata kuliah Parasitologi dan memberikan wawasan mengenai bahaya infeksi Enterobius vermicularis dan bagaimana cara mendiagnosisnya.

F.            Metode Penulisan
          Dalam penulisan ini, penulis melakukan pengumpulan data/bahan dari kajian pustaka dan media elektronik dengan mengakses internet.

G.             Manfaat
        Diharapkan hasil penulisan ini dapat dijadikan bahan masukan bagi mahasiswa analis kesehatan khususnya dalam mendiagnosis Enterobiasis dan memahami bahaya yang ditimbulkannya. Penulisan ini juga diharapkan menjadi bahan pengalaman berharga dan dapat meningkatkan kemampuan penulis untuk melakukan penulisan yang akan datang.


H.           Sistematika Penulisan
          Makalah ini terdiri atas enam bab. Bab I Pendahuluan, memuat: latar belakang, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, manfaat dan sistematika penulisan. Bab II Dasar Teori, memuat: klasifikasi, hospes dan nama penyakit, distribusi geografik, habitat, morfologi, siklus hidup, gejala klinis, diagnosis laboratorium, epidemiologi dan faktor risiko, pengobatan dan prognosis, pencegahan dan pengendalian. Bab III Bahaya Infeksi Enterobius vermicularis, memuat: infeksi berat Enterobius vermicularis, gejala klinis dan potensi kerugian akibat infeksi berat enterobiasis. Bab IV Penutup, meliputi: kesimpulan dan saran. 



















BAB II
DASAR TEORI


A.        Klasifikasi
Kingdom                     : Animalia
Filum                           : Nematoda
Kelas                           : Rhabditea
Ordo                            : Oxyurata
Famili                          : Oxyuridae
Genus                          : Enterobius
Spesie                          : vermicularis
Nama lain                    : Oxyuris vermicularis, cacing kremi, cacing kerawit, pinworm, seatworm.

B.        Hospes dan Nama Penyakit
Manusia dianggap satu-satunya hospes11. Penyakitnya disebut enterobiasis atau oksiuriasis. Masyarakat awam biasa menyebutnya kremi-an.

C.         Distribusi Geografik
Seluruh dunia, dengan infeksi lebih sering pada anak usia sekolah atau prasekolah dan dalam pemukiman padat. Enterobiasis tampaknya lebih umum di daerah dingin dibandingkan di negara-negara beriklim tropis. Merupakan infeksi cacing yang paling umum di Amerika Serikat (sekitar 40 juta orang yang terinfeksi).11

D.           Habitat
Sejak berbentuk telur hingga menetas, cacing ini tinggal di usus 12 jari kemudian setelah berubah menjadi larva akan berpindah ke usus tengah (usus halus dekat seikum) yang merupakan bagian atas sistem penyerapan nutrisi. Setelah dewasa di rongga seikum atau di usus besar, cacing betina gravid akan bermigrasi ke perianal pada malam hari untuk meletakkan telur.11,14

E.            Morfologi
  • Cacing dewasa
♂ (jantan): 2-5 mm×0,1-0,2 mm.
bentuk seperti tanda tanya, pada anterior terdapat pelebaran seperti sayap (cephalic alae), ujung posterior tumpul, spikulum jarang ditemukan.11  

♀ (betina): 8-13 mm×0,3-0,5 mm.
pada anterior terdapat pelebaran seperti sayap (cephalic alae), ujung posterior panjang dan runcing, cacing betina gravid mengandung 11.000-15.000 telur.11

  • Telur
Ukuran telur Enterobius vermicularis 50-60 µm ×20-30 µm.
Telur berbentuk lonjong dan lebih datar pada satu sisi (asimetris). Dinding telur bening dan agak lebih tebal dari dinding telur cacing tambang. 11  

F.            Siklus Hidup
·         Telur diletakkan pada lipatan perianal. 
·         Autoinfeksi (self-infection) terjadi karena pemindahan telur infektif ke mulut dengan tangan yang menggaruk daerah perianal. 
·         Penularan orang-ke-orang juga dapat terjadi melalui penanganan pakaian atau seprai tempat tidur yang terkontaminasi.
·         Enterobiasis juga dapat diperoleh melalui permukaan di lingkungan yang terkontaminasi dengan telur cacing kremi (misalnya, tirai, karpet).
·         Sejumlah kecil telur mungkin terdapat di udara (debu) dan terhirup dan tertelan kemudian mengikuti perkembangan yang sama sebagai telur yang tertelan.
·         Setelah menelan telur infektif, larva menetas di usus kecil (usus halus dekat seikum). 
·         dan cacing dewasa menetap di rongga seikum, usus besar. 
·         Kopulasi mungkin terjadi di rongga seikum, cacing ♂ mati setelah kopulasi dan cacing ♀ mati setelah bertelur.
·         Jarak waktu dari menelan telur infektif sampai cacing betina dewasa betelur adalah sekitar satu bulan.
·         Masa hidup cacing dewasa adalah sekitar dua bulan.
·         Cacing betina gravid bermigrasi malam hari keluar anus dan bertelur saat merayap di kulit daerah perianal. 
·         Larva yang terkandung di dalam telur berkembang (telur menjadi infektif) dalam 4 sampai 6 jam dalam kondisi optimal (suhu tubuh). 
·         Retroinfeksi, atau migrasi larva yang baru menetas dari belakang kulit dubur ke dalam rektum kemudian ke usus mungkin terjadi, tetapi frekuensi kejadian ini tidak diketahui.11

G.           Gejala Klinis
Enterobiasis sering asimptomatik. Gejala yang paling khas adalah pruritus perianal (rasa gatal pada anus), terutama pada malam hari, yang dapat menyebabkan superinfeksi bakteri (iritasi). Kadang-kadang, invasi pada saluran kelamin wanita dengan peradangan vulvovagina dan pelvis atau granuloma peritoneal dapat terjadi. Gejala lain termasuk sakit perut, anoreksia, insomnia, lemah, lekas marah dan masturbasi.11

H.           Diagnosis Laboratorium
Meskipun riwayat pasien dengan rasa gatal di anus pada malam hari dapat mengarah pada infeksi cacing kremi, diagnosisnya tergantung dari ditemukannya telur dan/cacing dewasa.
Identifikasi mikroskopis, telur dikumpulkan di daerah perianal adalah metode pilihan untuk mendiagnosis enterobiasis. Hal ini harus dilakukan pada pagi hari, sebelum buang air besar dan mandi, dengan menekan pita perekat transparan ("Graham Scotch method", cellulose-tape slide test) pada kulit perianal dan kemudian memeriksa pita yang ditempatkan pada slide (objek glass). Bahan juga bisa diambil pada larut malam setelah pasien tidur beberapa waktu. Bahan ini dapat diambil dari anak-anak dan kemudian dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan.11
Kemungkinan lain, anal swab atau "Swube tubes " (alat dari batang gelas atau spatel lidah yang ujungnya dilapisi dengan bahan perekat) juga dapat digunakan. Telur juga dapat ditemukan dalam tinja, tetapi kurang sering dan kadang-kadang ditemukan dalam urin atau usapan vagina. Cacing dewasa juga didiagnostik, saat ditemui di daerah perianal, atau selama pemeriksaan ano-rektal, vagina atau dalam tinja. Karena cacing betina secara sporadis mengadakan migrasi, perlu dilakukan 4-6 kali seri pemeriksaan untuk menemukan infeksi.11

I.                   Epidemiologi dan Faktor Risiko
·         Epidemiologi
Infeksi cacing kremi lebih umum dalam keluarga dengan anak usia sekolah, terutama pengasuh anak yang terinfeksi dan anak yang hidup dalam lingkungan yang sama (asrama, panti asuhan).11
Seseorang yang terinfeksi cacing kremi karena menelan telur infektif secara langsung atau tidak langsung. Telur-telur ini diletakkan di sekitar anus oleh cacing betina dan dapat terbawa ke permukaan (tangan, mainan, kasur/seprai, pakaian dan tempat duduk toilet). Dengan meletakkan tangan siapun yang terkontaminasi (termasuk tangan penderita sendiri) di sekitar daerah mulut atau meletakkan mulut pada permukaan yang biasa terkontaminasi, seseorang dapat menelan telur cacing kremi dan menjadi terinfeksi parasit cacing kremi. Karena telur cacing kremi sangat kecil, hal itu memungkinkan untuk tertelan saat bernapas.11
Sesudah seseorang menelan telur cacing kremi, terdapat masa inkubasi 1-2 bulan atau lebih bagi cacing betina untuk dewasa. Sesudah dewasa, cacing betina bermigrasi untuk bertelur disekitar anus pada malam hari, ketika banyak dari hospes sedang tidur. Orang yang terinfeksi cacing kremi dapat menularkan parasit tersebut ke orang lain selama masih terdapat cacing betina yang meletakkan telurnya pada kulit perianal. Seseorang juga dapat terinfeksi kembali karena dirinya sendiri (autoinfeksi) atau terinfeksi kembali karena telur dari orang lain.11  

·         Faktor Risiko
Faktor resiko yang berhubungan dengan enterobiasis adalah sebagai berikut:
a)     Iklim
Enterobiasis lebih umum di daerah dingin. Pada daerah tropis insiden lebih sedikit karena cukupnya sinar matahari dan udara panas. Telur menjadi rusak karena sinar matahari dan radiasi sinar ultraviolet. Telur cacing kremi dapat bertahan pada lingkungan di dalam rumah/gedung selama 2-3 minggu.
b)    Hygiene dan sanitasi
Menurut data Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) 2010, persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan katergori baik rata-rata secara nasional hanya 35,88 persen. Ketua umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr. Prijo Sidipraptomo, SpRad(K), menuturkan terdapat empat faktor pencetus seseorang menderita sakit. Sekitar 40% karena perilaku, 30% lingkungan, 20% kelainan bawaan dan sisanya 10%  karena minimnya akses ke tempat kesehatan. Adapun yang dapat diintervensi dengan perubahan pola hidup adalah karena perilaku dan lingkungan.13 Kondisi sanitasi lingkungan, kebersihan pribadi yang buruk dan kesadaran akan kebersihan yang masih rendah merupakan faktor risiko enterobiasis.
c)    Kelompok umur
Menurut Prof. Tjandra, cacingan pada umumnya menyerang pada anak-anak karena daya tahan tubuhnya masih rendah. “Anak-anak Prevalensi terbanyak yang cacingan adalah anak berusia di atas 2 tahun (usia sekolah SD)," papar Prof. Saleha. Namun infeksi cacing kremi dapat terjadi pada siapa saja  khususnya yang kurang menjaga kebersihan diri.
d)     Kepadatan penduduk
Daerah pemukiman yang padat memudahkan terjadinya penularan penyakit enterobiasis melalui debu yang diterbangkan oleh angin dan memungkinkan terjadinya infeksi pada suatu institusi/keluarga.9
e)      Kondisi sosial ekonomi
Kecacingan banyak terdapat di daerah miskin/kondisi sosial ekonomi yang rendah.

J.             Pengobatan dan Prognosis
Infeksi cacing kremi dapat sembuh sendiri (self limited). Bila tidak ada reinfeksi, tanpa pengobatan pun infeksi dapat berakhir. Pengobatan secara periodik memberikan prognosis yang baik. Sebaiknya pengobatan dilakukan pada semua anggota keluarga secara bersamaan, mengingat cacing kremi sangat mudah menular. Obat pilihannya adalah pyrantel pamoate.11
"Kalau sudah sampai menginfeksi vagina, pengobatannya tidak bisa lagi pakai obat cacing biasa yang isinya pirantel pamoat. Harus pakai albendazol," kata ahli parasitologi dari Universitas Indonesia, Prof. dr. Saleha Sungkar.14
Jika anak Anda belum positif cacingan jangan pernah memberikan obat cacing. Periksakan feses anak dua kali setahun atau setiap enam bulan sekali untuk mendapatkan diagnosa dokter tentang cacingan pada anak Anda.
Menurut Professor Saleha Sungkar, memberikan obat cacing haruslah didahului dengan diagnosa positif cacingan dari dokter. "Selama ini banyak orang tua telah keliru dengan memberikan obat cacing teratur selama enam bulan sekali padahal sang anak belum tentu cacingan."
Untuk itu Saleha menyarankan agar setiap orang tua yang telah melihat gejala cacingan pada anaknya untuk memeriksakan feses (atau apusan dubur) sang anak ke laboratorium terlebih dahulu. "Biasanya orang tuanya merasa jijik mengambil feses anak sebagai sampel dan merasa obat cacing yang biasanya berdosis tunggal tak berbahaya jika langsung dikonsumsi anak tanpa harus memeriksakan feses. Padahal yang namanya obat pasti ada efek sampingnya sekecil apapun," papar Saleha.
Professor yang sedang melakukan penelitian bahaya telur cacing pada makanan kaki lima ini justru menyarankan agar pemeriksaan feseslah yang harus dilakukan enam bulan sekali. "Enam bulan sekali bukannya minum obat cacing tapi periksakan feses ke laboratorium agar anak selalu bebas cacing," jelasnya.2

K.        Pencegahan dan Pengendalian
·         Pencegahan
Pada acara pencanangan Hari Waspada Cacing, Jum’at (23/7/2010)  yang diikuti oleh ribuan anak-anak dari berbagai Sekolah Dasar di DKI Jakarta, dilakukan juga penandatanganan komitmen antara Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, serta Johnson & Johnson dalam upaya pengendalian dan pemberantasan penyakit kecacingan. Selain itu diluncurkan juga program 3J, yaitu:
1)      Jaga Kebersihan Diri,
Cuci tangan dengan sabun dan bilas dengan air bersih yang mengalir sebelum dan setelah makan.
2)      Jaga Kebersihan Makanan, dan
Cuci dengan air bersih yang mengalir semua bahan makanan dan masak dengan matang.
3)      Jaga Kebersihan Lingkungan.
Jaga kebersihan rumah dan lingkungan.4

Untuk mencegah infeksi cacing kremi, beberapa langkah dapat dilakukan:
1.      Cuci tangan sebelum makan, setelah buang air besar dan setelah memegang binatang peliharaan (telur cacing kremi dapat menempel pada bulu kucing/anjing).
2.      Mandi dan mengganti baju dalam dua kali sehari (umumnya orang di daerah dingin jarang mandi dan mengganti baju dalam).
3.      Memotong dan menjaga kebersihan kuku.
4.      Menghindari memegang daerah anus.
5.      Mencuci seprai, handuk dan pakaian secara teratur.
6.      Anak-anak dianjurkan untuk tidur dengan pakaian tertutup (piyama).
7.      Makanan dan minuman dihindarkan dari debu dan tangan yang mengandung parasit.
8.      Cuci sayuran sebelum dimasak di air mengalir/celupkan sebentar di air panas (hasil penelitian di 3 pasar daerah Malang tahun 2010 menunjukkan 15,4% selada mengandung telur cacing E. vermicularis)16
9.      Jagalah kebersihan lingkungan, bersihkan dinding dan lantai rumah sacara teratur.
·         Pengendalian
“Untuk mengendalikan dan memberantas semua penyakit (termasuk kecacingan) yang penting adalah kemitraan, kerjasama antara pemerintah, swasta dan masyarakat yang bisa mandiri menjaga kesehatannya”, ujar dr. Hartati.4
Untuk mengatasi permasalahan ini, Kementerian Kesehatan melakukan kebijakan operasional berupa kerjasama lintas program seperti kemitraan dengan pihak swasta dan organisasi profesi. Tujuannya untuk memutuskan rantai penularan, menurunkan prevalensi kecacingan menjadi <20% pada tahun 2015, serta meningkatkan derajat kesehatan dan produktivitas kerja.
Kegiatan yang dilakukan antara lain sosialisasi dan advokasi, pemeriksaan tinja minimal 500 anak SD per kabupaten/kota, intervensi melalui pengobatan dan promosi kesehatan, meningkatkan kemitraan, integrasi program, pencatatan dan pelaporan serta monitoring-evaluasi.7
"Kuncinya adalah perilaku hidup bersih dan sehat," kata dr. IBN Banjar, Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Saat ini pemerintah fokus pada upaya preventif dengan menggalakkan program hidup bersih dan sehat di sekolah-sekolah.3








BAB III
BAHAYA INFEKSI
Enterobius vermicularis


A.        Infeksi Berat Enterobius vermicularis
Gatal-gatal akibat infeksi cacing kremi tidak hanya bisa dirasakan di daerah dubur. Pada wanita dengan infeksi berat, cacing tersebut bisa juga menyerang daerah sekitar alat kelamin termasuk vagina dan saluran telur sehingga mengganggu sistem reproduksi.
Cacing kremi atau Oxyuris vermicularis merupakan cacing parasit yang banyak menginfeksi anak-anak maupun dewasa dan ditandai dengan gejala khas berupa rasa gatal di sekitar anus. Cacing dewasa dalam jumlah banyak kadang-kadang bisa ditemukan pada feses atau tinja orang yang terinfeksi.
Dalam siklus hidupnya di dalam tubuh manusia, cacing kremi selalu berpindah-pindah. Sejak berbentuk telur hingga menetas, cacing ini tinggal di usus 12 jari kemudian setelah berubah menjadi larva akan berpindah ke usus tengah yang merupakan bagian atas sistem penyerapan nutrisi.
Setelah dewasa, cacing ini akan bermigrasi ke bagian anus kemudian bergerombol dan menyebabkan rasa gatal di bagian tersebut. Sebagian di antaranya juga akan keluar bersama feses atau tinja dan umumnya bisa diamati dengan mata telanjang, berupa cacing putih yang bergerak-gerak.
Nah, dalam pengembaraannya menuju anus inilah, cacing dewasa sering tersesat lalu bersarang di bagian-bagian yang tidak seharusnya kemudian bersarang di sana untuk bertelur. Salah satunya adalah vagina, yang sering menjadi tempat bersarang cacing kremi dewasa khususnya yang betina.
Di vagina, cacing kremi bisa menyebabkan gatal atau bahkan radang yang pada tingkat keparahan tertentu bisa disertai koreng. Infeksinya bahkan bisa lebih jauh lagi, cacing-cacing itu kadang menyebar hingga saluran telur sehingga bisa mengganggu sistem reproduksi.
*Awas! Cacing Kremi Bisa Menyerang Vagina Senin, 31/01/2011 13:46 WIB

B.                Gejala Klinis Infeksi E. vermicularis pada vagina
Sudah tiga tahun usia perkawinan pasutri Dono dan Yuli tapi sampai saat ini belum juga lahir bayi yang diidamkan. Ketika menjalani pemeriksaan secara seksama oleh dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan, ternyata pada rongga rahim Yuli ditemukan luka kronis. Yuli mengaku, sejak menikah memang sering menderita keputihan. Selama ini hanya diobati dengan obat tradisional seperti rebusan daun sirih serta jamu antikeputihan. “Sebentar sembuh tapi kemudian kambuh kembali”, katanya. Apakah keputihan ini saja gara-garanya, masih perlu diteliti lebih lanjut.
“Keputihan yang kronis memang bisa merupakan salah satu penyebab kemandulan”, kata dr. Asri dari Pusat Pelayanan Keluarga Pro-Familia, Jakarta. “Sebab itu perlu bagi setiap wanita menikah melakukan ‘kuras’ vagina”, saran dokter dari klinik yang didirikan Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI) ini. “Kuras” vagina artinya, pengontrolan dan pembersihan vagina sampai ke mulut serta rongga rahim.
Menurut dr. Asri, lebih dari 70% wanita Indonesia mengalami penyakit keputihan yang disebabkan oleh jamur, parasit seperti cacing kremi atau kuman (Trichomonas vaginalis). Korban yang mengalami keputihan karena cacing kremi, gejalanya selain merasa gatal, juga adanya lendir keruh dan kental berwarna sedikit kekuningan seperti susu, terkadang berbusa.
Keputihan karena cacing kremi ini juga dapat diderita oleh anak-anak perempuan (balita sampai anak besar) akibat telur yang menempel pada makanan atau barang lain yang terkontaminasi. Sebab itu kalau ada anak perempuan mengeluh di daerah vagina terasa gatal dan mengeluarkan lendir kekuningan, segeralah periksakan ke dokter. Mungkin penyebabnya cacing kremi. Kalau disebabkan oleh kuman atau trikomonas pada umumnya gejalanya selain gatal, lendir berwarna kehijauan.
Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI)
http://www.pkmi-online.com/health_solution3.htm

C.                Potensi kerugian
Jika dikatakan kerugian ekonomi akibat cacingan karena cacing gelang, cambuk dan tambang (karena kehilangan karbohidrat, protein, anemia dan produktivitas) sebanyak 177 miliar rupiah per tahun, begitu juga halnya potensi kerugian akibat infeksi berat cacing kremi betina yang dapat menyerang saluran telur sehingga bisa mengganggu sistem reproduksi, bahkan menyebabkan infertilitas.
Bila hal tersebut terjadi maka akan ada penurunan kuantitas dan kualitas generasi penerus bangsa. Biaya yang dikeluarkan untuk mengatasi infeksi berat cacing kremi pun cukup besar. Selain itu keputihan akibat cacing kremi akan mengganggu kondisi psikologi-sosial penderita.















IV
PENUTUP


A.              Kesimpulan non STH, debu, gejala ringan, pengobatan satu keluarga
Masalah kecacingan yang perlu diperhatikan tidak hanya cacing gelang, cambuk dan tambang, tetapi juga cacing kremi karena dapat menimbulkan kerugian yang tak kalah besarnya akibat infeksi berat yang ditimbulkan. Perlu diketahui infeksi cacing kremi yang menyebabkan pruritus ani (gatal pada anus) dapat pula menyerang vagina dan saluran reproduksi pada infeksi berat. Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur pada pemeriksaan mikroskopik yang di dapat dari anal swab metode Gram Scotch. Pengobatan hanya diberikan jika ditemukan diagnosis positif. Karena itu diagnosis laboratorium sangatlah penting mengingat infeksi cacing kremi sangat mudah menular.
Diagnosis yang tepat merupakan kunci pengobatan kremian ini. Untuk itu pemahaman mengenai morfologi, siklus hidup dan gejala klinis enterobiasis perlu dipahami dengan benar oleh para analis kesehatan (dalam hal ini khususnya mahasiswa) demi terwujunya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Enam bulan sekali bukanlah minum obat cacing tetapi periksakan anak ke laboratorium agar terbebas dari cacingan.

B.            Saran
Cacingan merupakan masalah yang serius, mengingat akibatnya dapat menurunkan kualitas generasi muda karena terganggunya proses pertumbuhan dan proses belajar, jelas Saleha di acara yang bertajuk Generasi Sehat Indonesia karena Waspada Cacing Setiap Saat.
Rully Prasetyanto Brand Manager Combantrin PT Johnson & Johnson Indonesia mengatakan ancaman penyakit cacingan pada generasi penerus perlu ditangani dengan serius. Selain itu, konsisten dan berkesinambungan.
Sosialisasi bahaya cacingan memang seharusnya terus digalakkan mengingat cacingan bisa menjadi masalah yang serius di negara tropis, termasuk Indonesia.
Pihak yang terkait perlu memperhatikan kecacingan karena cacing kremi, sebab bahaya yang ditimbulkan juga besar.
Mungkin karena bentuknya yang mirip, tersebarlah sebuah mitos aneh (dan bodoh), “kalau makan kelapa parut nanti bisa cacingan”. Padahal teori generation spontanea sudah lama tumbang. Tidak mungkin dari daging bisa lahir belatung, dari tumpukan padi muncul tikus, dan begitu pula dari parutan kelapa jadi cacing kremi. Kecuali kalau di parutan kelapanya memang ada telur kreminya.
Perlu dilakukan penelitian/pengkajian lanjutan mengenai ada tidaknya kasus infeksi berat akibat cacing kremi ini.



















DAFTAR PUSTAKA


Data yang diperoleh dengan mengakses internet mengacu pada:
Garcia, Lynne S. 1996. Diagnostik Parasitologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

1.   Cacingan Bisa Turunkan Kecerdasan Anak SD.
http://lifestyle.okezone.com/read/2011/01/31/195/419626/cacingan-bisa-turunkan-kecerdasan-anak-sd

2.   Jangan Beri Obat Cacing Bila Si Kecil Tak Cacingan. Rabu, 20/01/2013 13:46 WIB
http://www.tribunnews.com/2011/02/01/jangan-beri-obat-cacing-bila-si-kecil-tak-cacingan

3.   Waspadai Parasit Perut Buncit
http://www.kompas.com/news/read/2011/02/19/09454436/www-kompas-com

4.   Pencanangan Hari Waspada Cacing
http://depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1151-pencanangan-hari-waspada-cacing.html
  
5.   20 Persen Anak Indonesia Menderita Cacingan
http://www.kompas.com/news/read/2010/07/09/04141339/20-Persen-Anak-Indonesia-Menderita-Cacingan

6.   Penyakit Cacingan Masih Ancam Kesehatan Anak Indonesia. Rabu, 20/01/2013 13:46 WIB
m.okezone.com/read/2010/07/08/27/350939

7.   Penyakit Kecacingan Masih Dianggap Sepele
http://depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1135-penyakit-kecacingan-masih-dianggap-sepele.html

8.   Enterobiasis pada Anak Usia Di bawah 6 Tahun di desa Cikaret
Cermin Dunia Kedokteran No. 97, 1994 hal.16
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_097_foodborne_diseases.pdf

9.   Faktor Yang Berhubungan Dengan Enterobiasis Pada Anak SD Di Kelurahan Tambak Wedi, Kecamatan Kenjeran Tahun 2009
Hidri Dwian Purti, 100730315, Fakultas Kesehatan Masyarakat
http://adln.fkm.unair.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=adlnfkm-adln-hidridwian-1476

10.         Taxonomic Classification
Michigan State University. Est. 1855. East Lansing, Michigan USA.
https://www.msu.edu/course/zol/316/evertax.htm

11.         Enterobiasis
Center for Disease Control and Prevention 1600 Clifton Rd. Atlanta, GA 30333, USA.


12.         Penyakit Kecacingan Masih Dianggap Sepele
http://depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1135-penyakit-kecacaingan-masih-dianggap-sepele.html

13.         Dokter Kecil, Agen Perubahan Cilik Rabu, 20/01/2013 13:46 WIB
m.okezone.com/read/2011/08/01/195/486537

14.         Awas! Cacing Kremi Bisa Menyerang Vagina Rabu, 20/01/2013 13:46 WIB
http://www.detikhealth.com/read/2011/01/31/134659/1557107/763/awas-cacing-kremi-bisa-menyerang-vagina?ld991107763

15.         Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI)
http://www.pkmi-online.com/health_solution3.htm